Minggu, 17 Mei 2009

Daftar Penerima Beasiswa DEPAG

No Nama PTN Tahun
1 Nurul IPB Bogor 2008
2 Nana Dwi Yuliana UGM Yogya 2008
3 Hilman Muanis UGM Yogya 2009
4 Atikah ITB 2009
5 Nur Khotimah ITB 2009





Selamat

Google Earth

Google seakan identik dengan inovasi. Setelah sukses besar dengan Google search engine pencari kata di dunia internet, perusahaan yang didirikan oleh dua sahabat Larry Page dan Sergey Brin ini banyak menelurkan produk-produk brilian lainnya. Sebut saja Gmail (program email dengan kapasitas diatas 2 GB), Google Scholar (pencari publikasi ilmiah online), dan terakhir Google Earth (http://earth.google.com).
Google Earth adalah aplikasi yang memberikan kesempatan pada penggunanya untuk mengakses database pencitraan bumi yang didapat dari satelit. Kalau mau jujur, Google sebenarnya tidak membuat sendiri Google Earth namun hanya membeli kerangka dasarnya dengan mengakuisisi Keyhole, sebuah perusahaan digital and satellite image mapping yang mempunyai produk dengan nama yang sama. Tapi kemudian Google dengan brilian mengembangkan Keyhole sehingga bertransformasi menjadi Google Earth saat ini.
Google Earth tersedia dengan 3 jenis pilihan, yaitu versi gratis (free), versi Plus dan versi Pro. Versi Plus dan Pro menyediakan fasilitas pencetakan gambar dengan definisi yang lebih tinggi, interaksi dengan alat penerima GPS (Global Positioning System), serta beberapa kelebihan lainnya dibandingkan dengan versi gratisnya.
Berbeda dengan online map lain yang ada di internet, Google Earth menyajikan tampilan berupa Globe (bola bumi) bumi secara alami persis seperti apa yang dilihat astronaut dari luar atmosfir bumi. Navigasi dapat dilakukan dengan memilih tombol-tombol navigasi, menggerakkan mouse komputer pada layar, atau dengan gerakan mouse wheel.
Dengan versi gratis pun, menjelajah dunia dengan Google Earth sangat mengasyikkan dan informatif. Google Earth menyediakan beberapa tempat populer di dunia yang dapat dilihat dengan hanya menekan tombol mouse saja. Dengan sekali double click kita bisa langsung melihat foto udara stadion olimpiade Sydney di Australia dengan detail. Kantor pusat perusahaan Google di California, menjadi contoh kecanggihan detail Google Earth dengan mempertontonkan deretan tenda dan kursi tempat makan siang dan duduk-duduk pegawai Google di halaman belakang kantor.
Beberapa lokasi bahkan tersedia gambarnya secara 3 dimensi. Obyek yang ada di lokasi itu dapat kita putar-putar sesuai dengan arah pandang yang kita inginkan. Menara Eiffel di Paris dan Nelson’s Collumn di Travalgar Square London misalnya dapat kita nikmati panoramanya dengan menarik secara 3 dimensi.
Pada beberapa lokasi, Google Earth mampu menyajikan gambar dengan akurasi yang sangat mengagumkan. Pegunungan, gedung-gedung, bahkan sampai kendaraan yang berada di jalan raya dapat dilihat di Google Earth. Sayangnya Google Earth hanya dapat dinikmati oleh pengguna internet dengan kapasitas Broadband (rekomendasi Google adalah kecepatan download 768 kbps ke atas), mengingat besarnya data yang harus ditransfer demi menghasilkan gambar yang mendetail. Akurasi gambarnya untuk Indonesia juga belum sedemikian mendetail seperti gambar yang tersedia untuk kota Singapura misalnya.
Kita juga bisa coba melihat areal Indonesia dengan Google Earth. Kita bisa menjelajahi Indonesia bak pesiar ke seluruh pelosok tanpa perlu melangkahkan kaki sedikitpun.
Dari ketinggian 2950 miles (4764 km) rentang kepulauan Indonesia terlihat menawan. Pulau-pulau besar dan kecil bak mosaik yang menghiasi lautan biru khatulistiwa. Ceruk dan palung dasar laut tampak pula merentang di antara pulau-pulau kita.
Jika kita ingin coba lihat lebih dekat bumi Indonesia dari langit, tinggal gerakkan tombol scroller di mouse yang mengaktifkan gerakan zooming in dan zooming out tampilan di layar Google Earth.
Kota-kota besar dan kecil di Indonesia, sedikit banyak kita telusuri lewat gambar-gambar Google Earth. Surabaya, Sintang, Surakarta, Soroako, Samarinda, sampai Sorong dapat kita jelajahi dengan sekejab.
Lebih jauh, kita bisa mengagumi keanggunan dan keangkuhan gunung-gunung berapi di Indonesia. Mulai dari gunung Kerinci di Jambi, gunung Merapi di Jawa Tengah, Semeru, Bromo di Jawa Timur, gunung Agung di Bali, gunung Rinjani di pulau Lombok, sampai Gunung Tambora di Flores.
Pulau-pulau yang sewaktu sekolah dasar sering diceritakan pada kita oleh guru kelas dapat diintip dengan cepat. Pulau Samosir di tengah danau Toba yang nyaris bersatu dengan daratan di sekelilingnya, pulau Maekor di kepulauan Aru, pulau Matak di laut Cina Selatan, sampai pulau Gag di dekat kota Sorong Papua.
Danau-danau yang mungkin tidak akan pernah mampu kita kunjungi di seantero Indonesia dapat pula dinikmati kecantikannya langsung di layar komputer. Pernahkan anda lihat kecantikan danau Laut Tawar di Aceh? Atau danau Dibaruh, danau Talang, dan danau Diatas di Sumatera Barat? Pernah anda tengok danau Jempang, danau Semajang dan danau Melintang di Kaltim? Danau Manswon dan danau Sobe di kawasan kepala burung Papua? Semuanya bisa kita lihat lewat Google Earth.
Beberapa tempat yang ‘terkenal’ di Indonesia karena kasus-kasus kontroversial dapat kita observasi dari udara. Desa Buyat, Ratatotok, dan teluk Buyat yang pernah ramai dibicarakan tercemar dapat ‘diintip’ dari Google Earth. Kota Dilli, Baucau dan Viqueque di Timor Timur yang pernah mencicipi berada dalam kekuasaan Indonesia dapat pula kita teropong keberadaaannya.

Ketajaman detail image pada Google Earth berbeda-beda pada masing-masing daerah. Untuk kota Jakarta saat ini sudah sangat baik detail gambarnya sehingga cukup jelas terlihat gedung-gedung besar, fasilitas umum, dan juga kawasan perumahan. Di tempat lain umumnya hanya terlihat deskripsi umum dari sebuah lokasi, tapi detailnya belum terlihat jelas.
Hijaunya hutan dan perkebunan, coklatnya ladang gundul, dan kelabunya kota-kota besar di Indonesia dapat kita lihat dengan jelas. Imaji yang terlihat dari udara ini dapat diaplikasikan untuk berbagai macam tujuan. Diantaranya untuk tata kota, tata guna lahan, observasi hutan, arkeologi, geologi, sampai pertahanan negara.
Bisa dibayangkan bahwa jika layanan Google Earth yang gratisan ini saja dapat menghasilkan gambar-gambar begitu detail dan menawan, bagaimana image yang dihasilkan oleh satelit mata-mata Amerika atau Israel? Mungkin pemandangan lahan jemuran belakang rumah kita bisa terekam gambarnya di layar monitor komputer mereka.
Namun demikian, kita bisa pikirkan itu nanti.

Beasiswa

Alhamdulillah dalam beberapa tahun ini para siswa-siswi MWI Karangduwur selalu mendapat prestasi yang sangat menggembirakan. Prestasi untuk tingkat Tsanawiyah dalam 3 tahun ini selalu meraih kelulusan dalam Ujian Nasional dengan tingkat kelulusan 100%. Tidak kalah dengan yuniornya untuk tingkat "Aliyah pun sangat membanggakan, walaupun hanya bisa mencapai kelulusan rata-rata 95% tapi tetap bisa membanggakan yaitu dalam hal meraih Beasiswa, di mana dalam 2 tahun ini siswa-siswi MAWI mampu bersaing dengan sekolah/Madrasah lain sehingga dapat meraih Beasiswa dari Departemen Agama RI untuk melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN)yaitu IPB Bogor, UGM Yogyakarta, dan ITB Bandung.
Hal ini sungguh sangat membanggakan bagi Keluarga Besar PPWI,Siswa,orang tua dan masyarakat. Kemudian selain melalui Beasiswa beberapa Siswa-siswi MWI juga banyak yang diterima di beberapa PTN seperti UGM Yogyakarta, UNSOED Purwokerto,dan UNES Semarang.
Mudah-mudahan prestasi demi prestasi akan selalu didapat oleh siswa-siswi MWI. Dan dari tahun ke tahun semoga prestasi dapat meningkat..Amiin..

Rabu, 22 Oktober 2008

"KAMUS BERJALAN" ITU TELAH PERGI

Inna lil-Lahi wa inna ilaihi rajiun.
Telah meninggal dunia dengan tenang, ustad kita tercinta, sang "kamus berjalan", teladan kita yang bersahaja...
BAPAK HAJI WARTOYO
(guru mata pelajaran Adabul-Lughah, Mushtholah al-Hadits, Balaghah)
Meninggal pada hari Selasa pagi, 21 Oktober 2008, di Yogyakarta
Jenazah dikebumikan hari ini, Rabu, 22 Oktober 2008, jam 09.00 WIB
Mohon perkenan Anda semua, siapa saja, terutama alumni, keluarga besar, serta simpatisan Ponpes Madrasah Wathaniyah Islamiyah Karangduwur Petanahan Kebumen Jateng untuk mendoakan, syukur bisa datang bertakziah. Jikalaupun jauh, sudilah kiranya melakukan salat ghaib untuk beliau, kiranya beliau diampuni segala dosanya, diterima segala amal perbuatannya yang baik.
Atas segala kepedulian dan perhatiannya diucapkan jazakumul-Lah ahsan al-jaza'.

Tertanda,

Pengelola

Rabu, 17 September 2008

Yahoo!

Bagi masyarakat perkotaan, terutama yang sudah mengenal teknologi informasi (TI), kata Yahoo sudah tidak terlalu asing lagi. Para pengguna jaringan internet sudah mafhum dengan kata Yahoo. Yaitu nama sebuah program dalam jaringan internet yang berfungsi untuk menelusuri data-data di dunia maya (cyber). Cukup dengan memasukkan kata kunci, keluarlah data-data yang dikehendaki. Bukan hanya terbatas pada data dalam negeri, tetapi seluruh data di seantero jagad ini dalam hitungan waktu itu juga. Itulah kecanggihan Yahoo.
Sebenarnya, apakah arti kata Yahoo? Kata ini agak aneh bagi kalangan yang tidak tersentuh jaringan TI. Tetapi tidak terlalu asing bagi mereka yang sudah terbiasa dengan kecanggihan teknologi, terutama TI. Namun, bukan jaminan bagi mereka yang terbiasa memakai fasilitas internet memahami arti kata Yahoo. Walaupun sudah menjadi nama yang cukup terkenal dalam jaringan dunia cyber, tetapi banyak yang tidak memahami asal-usul kata Yahoo. Di sini, lewat tulisan ini, saya berusaha menelusuri arti kata tersebut.
Kata Yahoo terkait dengan sejarah bangsa Kanaan. Sebuah bangsa yang mendiami kawasan Palestina Selatan sebelum kedatangan umat Islam. Kata Yahoo berasal atau sama dengan kata Yah. Kedua kata ini sama maknanya, yaitu sebuah nama untuk menunjuk nama dewa (tuhan) bagi bangsa Kanaan. Yah berbentuk patung yang menjadi sesembahan bangsa Kanaan. Yah sejajar dengan dewa Ba’al. Oleh Bani Israel (Yahudi), kata Yah atau Yahoo kemudian diadopsi sebagai nama bagi tuhan mereka. Will Durant (1931), seorang sejarawan Yahudi meyakini bahwa Bani Israel adalah bangsa nomaden. Kehidupan yang selalu berpindah-pindah menyebabkan mereka tidak memiliki peradaban. Meskipun mereka memiliki tuhan, tetapi amat kabur dan sulit dipahami. “Para penakluk dari bangsa Israel menganut salah satu tuhan bangsa Kanaan, sehingga mereka mengakumulasikannya ke dalam bentuk tuhan mereka,” demikian pengakuan Will Durant.
Secara kebahasaan, kata Yah atau Yahoo memang sulit dimengerti. Dari mana asal kata Yah, banyak orang yang tidak tahu. Dari kata Yah kemudian lebih masyhur menjadi kata Yahoo. Menurut Abbas Mahmud Al-Aqqad, kata tersebut dimungkinkan merupakan nama suatu benda di alam ini. Atau, bisa jadi, menurut Al-Aqqad, kata Yah berasal dari kata Yahu. Istilah Yahu merupakan sebutan untuk memanggil seseorang yang jauh tak terlihat. Jika dikaitkan dengan ajaran Judaisme, hal ini sesuai dengan ajaran Nabi Musa. Kepada Bani Israel, Nabi Musa selalu mengingatkan agar mengingat Tuhan sebagai tanda bakti kepada-Nya. Caranya cukup hanya dengan isyarat saja. Yaitu isyarat menyebut seseorang yang berada di kejauhan yang tidak terlihat. Kata Yahu adalah isyaratnya. Dahulu, bahasa Ibrani belum mengenal huruf vokal ("e") hingga tahun 500 M. Setelah mengenal huruf vokal tersebut, kata Yahu berubah menjadi Jehovah. Secara harfiah, kata Yahoo atau Jehovah berarti “Raja” atau “Tuhan” (Ahmad Syalabi, 2006).
Ternyata benar klaim bangsa Yahudi-Zionis. Mereka mengklaim telah menguasai dunia lewat jaringan informasi. Buktinya, salah satu nama program pada jaringan internet menggunakan nama tuhan “Jehovah” dalam sejarah mereka. Dan akidah bangsa Yahudi-Zionis telah terkontaminasi dengan ajaran paganisme. Keyakinan terhadap tuhan Jehovah berasal dari keyakinan berhalaisme bangsa Palestina kuno.
Kata Yah, Yahoo, dan Jehovah (Yahweh) adalah sama dalam penelusuran silsilah asal katanya. Padahal, Yahoo adalah program dalam jaringan internet yang banyak dipakai oleh manusia di muka bumi ini. Jumlah pemakainya mungkin puluhan juta, atau bahkan ratusan juta orang. Rupanya benar, dunia telah dikuasai oleh jaringan Yahudi-Zionis. Bahkan nama sebuah program dalam jaringan internet saja menggunakan simbol atau identitas akidah (teologi) mereka. Sederhananya, terdapat proses Yahudisasi lewat jaringan teknologi informasi.
Dari sini, umat Islam mesti sadar. Program Yahudisasi berada di sekitar kita. Ia menempel menjadi nama-nama untuk beberapa produk teknologi canggih. Dan, kebanyakan umat Islam telah tergantung pada produk-produk teknologi canggih itu. Lantas, bagaimana sebaiknya sikap umat terhadap produk-produk Yahudi-Zionis tersebut?
Memang amat sulit menyikapinya. Seandainya hendak memboikot, tentu itu merupakan tindakan yang ceroboh. Bagaimanapun program Yahoo sangat dibutuhkan dalam dunia informasi. Kehadirannya sangat membantu dalam menelusuri dan menyajikan data-data yang sangat lengkap.
Dalam menyikapinya, saya berpendapat, sejauh produk-produk teknologi milik jaringan Yahudi-Zionis tidak membawa kerusakan (mafsadat), maka masih dapat ditolerir. Tetapi, jika produk-produk tersebut tidak memberi manfaat sama sekali, atau cenderung merusak akidah, terutama lewat program-program yang terselubung di dalamnya, maka umat wajib menolaknya. []
Oleh : Mu’arif
Alumni Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI) Petanahan, Kebumen. Alamat: Jl. Bimasakti No. 28/ Blok D Kec. Gondokusuman, Yogyakarta. Telp. 02747862101

Selamat Datang

Assalamualaikum Wr Wb
selamat Datang di blog kami, blog pesantren madrasah wathoniyah islamiyah (PPMWI) petanahan kebumen. blog ini akan menjadi wahana maya bagi para aktivis, alumni, simpatisan dan masyarakat luas untuk berkontribusi bagi mwi karangduwur petanahan, di mana saja. Kami mengharapkan saran, kritik, dan kontribusi dalam bentuk apa pun. terlebih lagi masalah dana, kami akan sangat terbuka menerima bantuan dana untuk operasional blog ini, agar ke depan lebih bagus lagi, syukur lebih mandiri, jadi tidak "nebeng" di blogspot seperti ini. Kami yakin, banyak alumni mwi karangduwur yang sudah sukses, dan masih punya ikatan emosional dengan almamaternya. bagi siapa yang ingin menyuplai dana, kirimkan saja ke BCA 895 0141 922, an sabrur rohim. untuk yang mau nyumbang langsung di petanahan kebumen, hubungi sdr firman handoko TB satu hati, atau sdr aris di PPMWI. Nah, bagi yang mau kirim tulisan kirim ke ppmwi08@gmail.com. tetapi kalau mau sekadar komentar, ya tinggal komentar saja. Sementara ini, artyikel masih sekadarnya saja, karena juga baru memulainya.
Wassalamu'alaikum wr wb.

MENCINTAI PERNIKAHAN

Dalam sebuah hadis yang sangat termasyhur, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Nikah adalah sunnahku. Siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” Yang menarik di sini, Nabi Saw menggunakan kata-kata “membenci” (raghiba fi), hal mana kata-kata ini tentu saja menyiratkan makna tersendiri yang mendalam. Lawan kata “membenci” adalah “mencintai” (ahabba). Jika mungkin disempurnakan secara logis, barangkali hadis tersebut bisa ditambah dengan, “… sedangkan yang mencintai sunnahku, maka ia termasuk golonganku.” Lihatlah di sini, “membenci nikah” berarti bukan pengikut Rasul Saw, sedangkan “mencintai nikah” berarti pengikut Rasul Saw. Mengapa hadis Nabi Saw tersebut tidak sekalian saja mengatakan “yang meninggalkan sunnahku” (baca: tidak menikah) sebagai “bukan golonganku”? Atau, dengan kata lain, kenapa yang dianggap sebagai golongan umat Nabi hanya “yang mencintai nikah”, tidak sekalian saja “yang menikah”?
Sebabnya adalah, seseorang yang tidak menikah bukanlah jaminan bahwa ia membenci pernikahan. Sama halnya, seseorang yang telah menikah tidaklah berarti mencintai lembaga pernikahan. Banyak orang yang pilih tidak menikah, karena beranggapan bahwa menikah akan membuatnya terikat dan punya tanggungjawab. Atau, naudzubillah, mereka berpikiran bahwa dengan menikah maka jadi tidak bisa berganti-ganti pasangan. Mereka inilah yang disebut “membenci sunnahku” itu. Sementara itu, ada seseorang sebenarnya ingin sekali menikah demi tujuan mengikuti sunnah Nabi, menyempurkana agama, menjaga martabat sosial, dst, tetapi karena suatu alasan (misalnya ekonomi), ia belum sanggup menikah. Tentu saja, ia tidak bisa dikategorikan sebagai “membenci sunnahku”.
Sebaliknya, seseorang yang sudah menikah bukanlah mutlak berarti bahwa ia mencintai lembaga perkawinan. Banyak orang yang menikah, tetapi berpikiran bahwa ikatan perkawinan justru membuatnya terpenjara oleh norma-norma berumah tangga. Ia merasa berat ketika diharuskan setia dengan satu pasangan, tetapi ia tidak mau bercerai, kemudian ia selingkuh. Ia ogah ketika harus mengurus kebutuhan anak dan istri, dan ia pilih hidup berfoya-foya melalaikan rumah tangga. Apa mereka layak disebut “mencintai sunnahku”, meskipun secara legal formal ia “mengikuti sunnah Nabi”? Tentu saja tidak.
Lalu, ada seseorang yang tidak prigel hidup berumahtangga, tidak “tahan banting” dengan badai kehidupan berumahtangga, sehingga kehidupan keluarganya berkali-kali gagal, kawin lalu cerai, kawin lagi lalu cerai lagi, dan begitu seterusnya. Dan akhirnya, ada seseorang yang kerjanya kawin cerai-kawin cerai karena tidak puas dengan hanya satu istri atau suami. Mereka ini, jika direnungi dengan dalam, apakah layak disebut “mencintai pernikaha”, meskipun berkali-kali menikah? Tentu saja tidak. Mereka bukanlah “pencinta nikah”, tetapi “penggemar nikah”.
Maka benar sekali memang jika Nabi Saw mengatakan bahwa yang tidak masuk sebagai bagian umatnya (Muslim) adalah “yang membenci lembaga pernikahan”, baik ia menikah atau tidak, bukan “yang meninggalkan pernikahan.” Wallau a’lam.[]